Penetapan A-K-U

19 06 2008

Hari ini aq baca sebuah artikel pengembangan diri yang judulnya ‘Aku Remaja Masa Kini’ dari situs http://www.lptui.com. Situs nya menarik bgt, LPTUI Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia mengawali kiprahnya pada 1 Juni 1970 atas prakarsa Prof. Dr. Slamet Iman Santoso, Dr. Hon., pelopor pendidikan psikologi di Indonesia. Bernaung di bawah Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, LPTUI merupakan gerbang utama penerapan psikologi dalam masyarakat.

Ok, back to the artikel y… Artikelnya bercerita tentang remaja masa kini yg bisa d sebut ‘remaja instant’. why?! smua juga pasti dah tahu jawabannya khan, karena zaman sekarang ini semuanya bisa d akses dengan cepat (apalagi perkembangan dunia IT saat ini, pesat bgt) Jadi semuanya bisa d kategorikan instant. D artikel tersebut juga d bahas tentang faktor2 penyebabnya. D situ d sebutkan ada tiga faktor penyebab timbulnya sikap remaja masa kini yang menharapakn semuanya jadi serba instant. Antara lain, Pengaruh Globalisasi, Pengaruh Keluarga, dan Pengaruh Institusi Pendidikan. Selengkapnya bisa d baca sendiri d artikelnya.

Aku tertarik sama kata-kata “PENETAPAN A-K-U” dalam artikel tersebut.

Di situ d sebutkan kalo untuk, membantu proses pengenalan diri dan penetapan tujuan ini, ada sebuah konsep sederhana yang sangat bermanfaat yang disebut dengan Penetapan A-K-U (Ambisi – Kenyataan – Usaha). Melalui konsep ini, para remaja bisa mulai belajar menetapkan tujuan-tujuannya sendiri sesuai dengan keadaan dirinya saat ini. Tidak hanya itu, remaja juga bisa mulai merancang usaha-usaha apa saja yang perlu ia lakukan untuk bisa mencapai tujuannya tersebut.

Ambisi

6Ambisi adalah segala sesuatu yang ingin dicapai seseorang. Untuk mengetahui Ambisinya, remaja harus melakukan analisis mengenai apa yang menjadi sasaran-sasarannya dalam hidup. Hal-hal apa saja yang ia anggap berarti, yang ingin ia raih di masa yang akan datang. Apakah ingin menjadi pengacara terkenal, ingin memiliki restoran keluarga, atau ingin menjadi perancang busana untuk butiknya sendiri. Yang penting, Ambisi yang ditetapkan harus mengikuti hukum SMART (Specific, Measurable, Achievable, Relevant, Time-bound). Artinya, Ambisi yang hanya berupa “ingin jadi akuntan ngetop” saja tidaklah cukup. Ambisi tersebut perlu dipertajam lagi, misalnya “ingin menjadi akuntan yang tergabung dalam PriceWater House Cooper, dan setelah bekerja selama 2 tahun sudah bisa menangani top ten best companies di Indonesia” Jangan lupa menyelaraskan satu ambisi dengan ambisi yang lain, juga pastikan ambisi-ambisi tersebut mungkin tercapai.

Kenyataan

7Kenyataan yang dimaksud di sini adalah keadaan diri pribadi remaja. Karakteristik apa saja yang ia miliki, segala bentuk keterbatasan, keahlian, hobi, minat, dan lain lain. Selain itu, di dalam kenyataan ini juga termasuk keadaan-keadaan tertentu yang ada di sekitar remaja, misalnya keadaan sosial ekonomi keluarga, jumlah saudara kandung, koneksi-koneksi sosial yang dimiliki, dan sebagainya. Untuk mempermudah, kenyataan diri ini dapat disusun menjadi dua bagian besar. Yaitu kenyataan-kenyataan yang sifatnya membantu pencapaian ambisi, dan kenyataan yang berkemungkinan menghambat pencapaian ambisi.

Usaha

8Setelah merumuskan Ambisi dan Kenyataan dirinya, remaja bisa mulai mencari-cari jalur apa saja yang bisa ia tempuh untuk bisa meraih ambisi-ambisinya. Yang perlu disadari adalah bahwa terkadang tidak mungkin mencapai suatu ambisi dengan hanya mengandalkan usaha satu langkah saja. Untuk ambisi menjadi akuntan terkenal misalnya, tentu pertama-tama harus lulus ujian nasional dulu, lalu masuk jurusan akuntansi di perguruan tinggi berkualitas, mendapat IPK minimal 3,00, dan diterima kerja di Kantor Akuntan Publik ternama. Masing-masing lagkah Usaha ini dapat dijadikan sebagai sub-Ambisi demi tercapainya Ambisi utama menjadi akuntan terkenal.

Tidak sulit bukan? Yang menjadi tantangan memang bukanlah membuat remaja menyusun penetapan A-K-U-nya, melainkan menyadarkan bahwa merekalah yang bertanggung jawab atas masa depannya sendiri. Oleh karena itu hendaknya mereka mau meluangkan waktu untuk sedikit melalui proses mandiri merancang keberhasilannya.

Nah, nampaknya kita dan para orang tua pun perlu merancang penetapan Ambisi kita yang baru, yaitu membuat generasi masa kini bukan menjadi generasi instan, melainkan menjadikannya generasi brilian yang pintar memaknai kehidupan. Bahwa bukan pencapaian-pencapaian saja yang penting, melainkan juga seberapa besar proses usaha yang dilalui untuk bisa meraih pencapaian tersebut.

Ok, sebagai remaja dan pemuda masa kini, apa kita mau d sebut generasi instant?! Pastinya gak mau donk!!! So, ayo qta buktikan bahwa generasi sekarang adlh generasi hebat yg bisa d andalkan.

Ayo tetapkan A-K-U qta, dengan ambisi yang d wujud nyatakan dengan usaha. Tuhan aja bilang Ora et La Bora(Berdoa dan Bekerja) semua hal butuh usaha dan setiap usaha butuh perjuangan dalam perjuangan ada pengorbanan yg menuntut kesabaran qta untuk mencapai hasil yang gemilang.

Tuhan Yesus Memberkati qta semua

Amin

c u..

Advertisements

Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: